
DUNIAMEDAN.COM – Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) melakukan kunjungan ke sejumlah perguruan tinggi di Kota Medan. Langkah ini diambil untuk membangun komunikasi sekaligus memastikan pengamanan aksi unjuk rasa mahasiswa tetap mengedepankan pendekatan yang humanis.
Dalam beberapa waktu terakhir, Kota Medan kerap menjadi pusat aksi mahasiswa yang menyuarakan beragam tuntutan, baik terkait isu nasional maupun daerah. Situasi ini mendorong Polda Sumut untuk menjalin kedekatan langsung dengan civitas akademika agar dinamika demokrasi tetap berlangsung kondusif.
Beberapa kampus yang menjadi tujuan kunjungan di antaranya Universitas Al Washliyah (Univa), Universitas Medan Area (UMA), Universitas Negeri Medan (Unimed), serta Universitas Sumatera Utara (USU). Kunjungan tersebut dipimpin langsung jajaran pejabat utama Polda Sumut.
Dalam pertemuan dengan pihak kampus, polisi menegaskan bahwa keberadaan aparat bukan untuk membatasi ruang gerak mahasiswa, melainkan memastikan aspirasi dapat disampaikan dengan aman. Menurut mereka, demonstrasi adalah bagian dari hak demokrasi yang dilindungi undang-undang.
“Mahasiswa adalah agen perubahan. Kami hadir untuk menjamin keamanan, bukan menekan suara kritis mereka,” ujar salah seorang perwira Polda Sumut dalam kunjungan tersebut.
Polda Sumut juga mengingatkan bahwa mahasiswa diharapkan tetap menjaga etika dalam menyampaikan aspirasi, sehingga tidak menimbulkan gesekan dengan aparat maupun masyarakat sekitar. Kebebasan berekspresi disebut harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial.
Selain berdialog, kunjungan itu juga dimanfaatkan untuk menyampaikan komitmen kepolisian dalam menegakkan prinsip humanis pada setiap aksi unjuk rasa. Aparat berjanji menghindari pendekatan represif selama massa aksi tidak melakukan pelanggaran hukum.
Di sisi lain, pihak kampus menyambut baik langkah Polda Sumut. Rektor dan perwakilan universitas menilai komunikasi langsung dengan aparat penting untuk mencegah kesalahpahaman di lapangan. Mereka juga berharap mahasiswa tetap mendapat ruang akademik yang sehat untuk berpendapat.
Universitas Sumatera Utara (USU) misalnya, menegaskan komitmennya dalam membina mahasiswa agar mampu menyampaikan kritik secara intelektual dan tertib. Kerja sama dengan aparat dianggap sebagai bagian dari upaya menjaga kondusifitas.
Hal senada juga disampaikan Universitas Negeri Medan (Unimed). Mereka menilai, kehadiran aparat di kampus bukan semata menjaga keamanan, tetapi juga membangun sinergi agar suara mahasiswa tetap dihormati.
Polda Sumut menegaskan, pihaknya memahami bahwa mahasiswa sering kali menjadi motor penggerak perubahan sosial. Oleh karena itu, kepolisian ingin menjadi mitra yang melindungi, bukan pihak yang dicurigai sebagai penghalang demokrasi.
Dengan kunjungan ini, diharapkan aksi-aksi mahasiswa ke depan bisa berlangsung tertib, aman, dan substantif. Aparat juga berkomitmen untuk menindak tegas provokator yang mencoba memanfaatkan momentum unjuk rasa demi kepentingan lain.
Langkah Polda Sumut ini dianggap sebagai bentuk transformasi pendekatan keamanan yang lebih modern. Alih-alih represif, polisi kini berusaha merangkul dan mendengarkan langsung suara kampus.
Masyarakat pun berharap, pendekatan humanis yang dijanjikan tidak hanya sebatas retorika, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan. Kepercayaan publik terhadap kepolisian dinilai sangat bergantung pada konsistensi sikap tersebut.
Kunjungan Polda Sumut ke kampus-kampus di Medan menjadi sinyal positif bahwa dialog terbuka lebih diprioritaskan dibandingkan konfrontasi. Jika komitmen ini dijaga, maka ruang demokrasi di Sumut akan tetap terpelihara tanpa harus menimbulkan ketegangan yang berlebihan.
